Rabu, 12 Januari 2011

Non-Skripsi Bukan Jawabannya

Kuliah zaman sekarang sudah mulai aneh. Keanehannya ada di persyaratan kelulusan untuk mendapat gelar sarjananya, yakni muncul wacana lulus non-skripsi tanpa membuat karya ilmiah. Jadi, mahasiswa dapat lulus hanya dengan mengambil kuliah hingga jumlah SKS (Satuan Kredit Semester) mencukupi syarat lulus.

Wacana tersebut memang hanya wacana kecil, belum menjadi wacana global. Namun, akibat dari wacana kecil tersebut dapat membuat sebuah kebimbangan dalam prinsip seorang mahasiswa. Kebimbangan tersebut akan melahirkan kepribadian yang labil pada diri seseorang, sehingga membuat seseorang tidak dapat atau tidak berani untuk berupaya dengan gigih terhadap tujuan utama hidupnya.

Muncul jiwa yang labil pada diri seseorang akan membuat kualitas orang tersebut menurun. Saya katakan demikian karena, orang dengan jiwa labil akan sulit untuk menentukan pilihan hidupnya. Selain itu, jiwa yang labil akan membuat diri seseorang sulit untuk berkembang dan mudah putus asa ketika menghadapi suatu masalah. Jiwa labil akan menutup mata hati dengan ketakutan.

Non-Skripsi Tanpa Karya Ilmiah Bukan Jawaban

Lulus dari perguruan tinggi seharusnya tidak terlalu dimudahkan dengan pilihan non-skripsi tanpa karya ilmiah. Karena, hal tersebut terkesan tidak adil bagi yang lulus dengan skripsi ataupun non-skripsi dengan karya ilmiah. Terlalu mudah untuk mendapatkan gelar sarjana, dan belum tentu orang yang memilih jalan non-skripsi tanpa karya ilmiah dapat mengerti apa yang sudah di dapatkan setelah ia selesai mengemban ilmu di bangku perguruan tinggi.

Selain itu, mahasiswa yang lulus dengan jalur non-skripsi tanpa karya ilmiah akan dipertanyakan tanggung jawab ilmunya, karena sarjana merupakan gelar untuk seseorang yang sudah menguasai salah satu bidang ilmu pengetahuan. Gelar sarjana yang didapatkan dengan jalur seperti itu bukanlah pilihan yang bijak. Seharusnya, ada ujian pengganti jika tidak mau mengambil skripsi atau pun tidak ingin mengambil tugas akhir pengganti skripsi.

Ujian yang saya maksud ialah ujian komprehensif, yakni ujian yang berisikan soal-soal mata kuliah dari semester pertama hingga semester terakhir si mahasiswa berkuliah. Ujian itu merupakan ujian yang akan membuat seorang mahasiswa dapat bertanggung jawab atas segala ilmu selama si mahasiswa berkuliah. Jadi, bagi mereka yang tidak mampu untuk skripsi akan tetap merasakan upaya untuk mempertanggungjawabkan ilmunya.

Sekali lagi dapat saya katakan, non-skripsi tanpa karya ilmiah bukan jalan keluar yang bijak. Kebijakan semacam itu hanya akan membuat manja para kaum intelektual di Indonesia. Selain itu, kebijakan seperti itu juga akan membuat tumpul otak. Namun, jika seseorang telah memilih jalur non-skripsi tanpa karya ilmiah, seharusnya mempunyai sikap berani mempertanggungjawabkan pilihan non-skripsi tanpa karya ilmiahnya dengan membuat karya di masyarakat. Agar, tidak percuma ilmu yang sudah diperolehnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar